Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Akademisi UIN Sebut Sistem Khilafah Tak Ada di Nusantara

JAKARTA – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman mengatakan jejak khilafah tak terlihat dan tak pernah ada di nusantara.

Bahkan, sambungnya, tak ada manuskrip yang menunjukkan sistem khilafah pernah berlangsung di sejarah kesultanan Nusantara.

“Kalau yang dimaksud jejak kesultanan Nusantara sebagai bagian khilafah itu jelas tidak. Saya kaji manuskrip, tidak mengindikasikan bahwa kesultanan di Nusantara bagian dari Khilafah Utsmani,” kata Oman dalam diskusi daring Jejak Khilafah di Nusantara, Selasa (25/8).

Meskipun demikian, Oman tak memungkiri soal hubungan diplomatik yang terjadi antara kerajaan atau kesultanan-kesultanan di nusantara dengan Kekhalifahan Turki Utsmani.

Dalam sejarah dunia, kesultanan Turki Utsmani menjadi kekhalifahan Islam terakhir yang ada sejauh ini. Kekhalifahan yang berdiri pada awal abad ke-14 ini runtuh pada dekade 1920 silam. Sejarah mencatat keruntuhan kekhalifahan itu karena kekalahan di luar negeri, dan tekanan kaum nasionalis dari dalam negeri.

Oman mengatakan hubungan kerajaan-kerajaan nusantara dengan kekhalifahan Utsmani itu memang terlihat buktinya dari riwayat dokumen kenegaraan. Termasuk, sambungnya, relasi para ulama nusantara dengan Utsmani yang bisa saja terjadi di masa lampau.

“Kalau ada kaitan dengan Utsmani itu tidak diragukan lagi jejak hubungan diplomatiknya,” kata pria yang merupakan Profesor Filologi Islam di UIN Jakarta tersebut.

Walaupun demikian, Oman mengatakan hal itu bukan menjadi sesuatu yang spesial terkait relasi nusantara dengan kekhalifahan. Sebab di masa lampau, nyatanya kesultanan di nusantara kerap kali melakukan hubungan diplomasi dengan negara lain selain Turki Utsmani. Misalnya, kata Oman, dengan Mesir dan negara-negara lain di Timur Tengah.

Oleh karena itu, Oman menjelaskan kontak dengan kerajaan luar di masa kesultanan itu tak membuktikan Indonesia memiliki keterkaitan dengan khilafah. Ia pun tak melihat sistem-sistem yang dianut kesultanan pada masa kerajaan di nusantara itu kemudian condong pada sistem khilafah.

“Kesultanan di Indonesia pada masa itu memiliki sekaligus menjalankan sistem pemerintahannya sendiri,” kata dia.

Oman mencontohkan Kesultanan Aceh disebut-sebut memiliki keterikatan bahkan berhubungan erat dengan Turki Utsmani. Meski berhubungan erat, kata dia, Kesultanan Aceh tidak berkaitan dengan sistem kekhalifahan Utsmani.

“Untuk Aceh saja yang punya hubungan diplomatik kuat dengan Turki tidak bisa diklaim menjadi bagian vasal,” kata dia.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), vasal adalah bersifat terikat atau negara (daerah) taklukan.

Dalam diskusi yang dimoderatori sejarawan sekaligus pemimpin redaksi HIstoria, Bonnie Triyana tersebut, Oman menjadi narasumber tunggal. Pasalnya, narasumber lain yang dianggap bisa mengimbangi yakni Sutradara Film Jejak Khilafah di Nusantara, Nicko Pandawa, tak muncul dalam dialog sejarah yang digelar secara daring itu.

“Sebetulnya saya sudah mengundang Nicko Pandawa, director atau sutradara film Jejak Khilafah di Nusantara. Namun, pada detik-detik terakhir menjelang diskusi Nicko menyatakan tidak bisa bergabung. Padahal kami mengharapkan Nicko bisa mengungkapkan temuan-temuan di risetnya,” ujar Bonnie saat membuka Dialog Sejarah tentang Jejak Khilafah di Nusantara tersebut.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.