Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter, 500 TKA China Hanya Akan Bekerja Selama 6 Bulan

JAKARTA – Juru bicara Menko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi sempat mengatakan pada (28/5) lalu bahwa Indonesia membutuhkan kehadiran ratusan TKA asal Tiongkok untuk mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi RKAF. Ia menggaris bawahi TKA Tiongkok ini hanya digunakan saat membangun smelter saja. Jumlah TKA pun bila dibandingkan dengan pekerja lokal, menurut klaimnya, jauh lebih sedikit.

“Kita harus jujur bahwa dengan teknologi RKAF Tiongkok, mereka bisa bangun secara ekonomis, cepat, dan memiliki standar lingkungan yang baik. Teknologi ini juga menghasilkan produk hilirisasi nikel yang bisa bersaing di pasar internasional,” ungkap Jodi melalui keterangan tertulis.

Pria yang merupakan diplomat di Kementerian Luar Negeri itu menekankan bahwa ratusan TKA Tiongkok akan kembali ke negara asalnya begitu smelter selesai dibangun.

“Pada saat (smelter) operasi, mayoritas tenaga kerja berasal dari lokal,” tuturnya lagi.

Ia kemudian mengambil contoh komposisi pekerja di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), jumlah pekerja lokal lebih mendominasi ketimbang TKA. Pekerja lokal mencapai 39.500, sedangkan TKA hanya 5.500.

“Jadi, jumlah TKA kira-kira 12 persen dari total pekerja (lokal). Saya yakin bila proses pembangunan smelter yang baru sudah selesai, maka jumlahnya (TKA) akan turun,” kata dia.

Contoh lainnya, ujar Jodi, di kawasan industri Virtue Dragon Konawe yang sedang diributkan, jumlah pekerja lokal mencapai 11.084. Sedangkan, TKA Tiongkok 706 orang. Menurut dia, tidak ada yang keliru bila untuk mempercepat proses konstruksi lalu didatangkan TKA asal Tiongkok.

“Jadi, TKA yang datang ini bukan malah mengambil pekerjaan dari tenaga lokal, tapi justru mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal, karena ketika sudah mulai beroperasi, tenaga kerja lokal akan mayoritas,” ungkapnya.

Sementara itu, Konselor bidang ekonomi dan perdagangan Kedutaan Tiongkok di Jakarta, Wang Liping menjelaskan pekerja mereka berada di Konawe, Sulawesi Tenggara bukan untuk waktu yang lama. Ia menyebut ratusan TKA Tiongkok hanya bekerja sekitar enam bulan.

“Perusahaan Tiongkok selalu berupaya untuk mempekerjakan pekerja lokal sebanyak mungkin. Hanya jika kekurangan sumber daya manusia dan tidak mampu memenuhi keperluan perusahaan maka perusahaan terpaksa mendatangkan pekerja dari Tiongkok,” tutur dia.

Ia menjelaskan setelah transfer teknologi rampung dilakukan dan proyek telah selesai serta bisa beroperasi secara stabil, maka sebagian besar pekerja Tiongkok akan kembali ke negaranya.

“Tinggal manajemen saja yang diperlukan dalam operasi proyek,” ujarnya lagi.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.