Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Ekonomi Indonesia Pulih Dengan Cepat, Morgan Stanley Naikkan Peringkat RI ke Overweight

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Namun rupiah menguat di perdagangan pasar spot.

Pada Rabu (17/6/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp. 14.234 Rupiah melemah 0,56% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Akan tetapi di ‘arena’ pasar spot, rupiah menghijau. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.000 di mana rupiah menguat 0,14%.

Kala pembukaan pasar, rupiah masih melemah 0,29%. Namun beberapa menit kemudian, mata uang Tanah Air langsung bisa menyeberang ke zona hijau.

Tidak banyak mata uang Asia yang mampu menguat di hadapan dolar AS. Selain rupiah, hanya yen Jepang dan dolar Taiwan yang terapresiasi, itu pun tipis saja. Oleh karena itu, penguatan 0,14% sudah cukup untuk membawa rupiah menjadi yang terbaik di Asia.

Investor menyambut gembira laporan terbaru dari Morgan Stanley. Bank asal AS itu menaikkan peringkat aset-aset Indonesia dari underweight menjadi overweight.

“Kami menaikkan Indonesia dan Yunani menjadi overweight bersama dengan pasar lainnya seperti China, Rusia, India, Brasil, dan Singapura. Namun kami masih underweight untuk Arab Saudi, Meksiko, dan Thailand. Indonesia menawarkan suku bunga riil ketiga tertinggi di antara negara-negara berkembang,” sebut riset itu.

Bukan tanpa alasan Morgan Stanley memberi apresiasi terhadap Indonesia. Morgan Stanley menilai ekonomi Indonesia bisa pulih dengan cepat dari ‘badai’ pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Menurut Morgan Stanley, Indonesia sudah bisa mencapai level pertumbuhan ekonomi pra-corona pada kuartal I-2020. Lebih cepat ketimbang negara-negara tetangga seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa sepertinya ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 terkontraksi (tumbuh negatif) -3,1%. Namun kontraksi diperkirakan hanya terjadi pada satu kuartal, sehingga Indonesia masih bisa terhindar dari resesi.

“Resesi adalah pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut negatif. Kita kuartal I masih (tumbuh) 3%, kuartal II mungkin negatif, dan kuartal III pulih mendekati 0%. Technically nggak resesi,” tegas Sri Mulyani.

Prospek ekonomi Indonesia yang cerah itu membuat pelaku pasar juga masih setia masuk ke pasar keuangan Ibu Pertiwi, terutama ke obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN). Kemarin, pemerintah melelang tujuh seri SBN dan hasilnya menggembirakan.

Penawaran yang masuk lumayan tinggi yaitu Rp 84,82 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah mengambil Rp 20,5 triliun, lebih tinggi dibandingkan target indikatif yang sebesar Rp 20 triliun.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.