Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Ekonomi RI Diprediksi Minus, tapi Rupiah Berbalik Menguat!

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Selasa (16/6/2020). Padahal, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Republik Indonesia (RI) akan berkontraksi alias minus di kuartal II-2020.

Saat pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,21% ke Rp 14.080/US$. Tetapi tidak lama, rupiah langsung berbalik menguat hingga 0,28% ke Rp 0,28% ke Rp 14.010/US$. Penguatan rupiah terpangkas dan berada di level Rp 14.020/US$, menguat 0,21% pada pukul 12:00 WIB di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv.

Dalam keterangan pers APBN KiTa (Kinerja dan Fakta), Sri Mulyani mengatakan tahun ini tantangan sangat berat, akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang belum diketahui sampai kapan berlangsung.

“2020 adalah tahun yang sangat ekstra ordinary. Pandemi Covid-19 adalah tantangan yang belum ada jawaban kapan akan berakhir dan bagaimana respons yang paling efektif,” kata Sri Mulyani dalam keterangan pers APBN KiTa edisi Juni 2020, Selasa (16/6/2020).

Akibat tekanan tersebut perekonomian global termasuk Indonesia mengalami kemerosotan dan diprediksi mengalami kontraksi 3,1% pada periode Mei-Juni.

“Pada kuartal II akan ada kontraksi karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilakukan dan memberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi yang besar. Ini akan mempengaruhi kuartal II yang kita perkirakan -3,1%,” katanya.

Namun pada kuartal III dan IV, Sri Mulyani, kondisi perekonomian diperkirakan membaik dan pertumbuhan ekonomi kembali ke teritori positif. Oleh karena itu, pemerintah masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 di kisaran -0,4% hingga 2,3%.

“Meskipun point estimate kita mendekati 0-1%. Kita akan liat terus dari berbagai perkembangan,” katanya.

Meski ekonomi RI diprediksi minus, tetapi rupiah masih bertahan di zona hijau. Sebabnya sentimen pelaku pasar yang sedang membaik, tercermin dari penguatan bursa saham. Penguatan bursa terjadi setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Senin tengah malam waktu Indonesia mengumumkan mulai hari ini akan membeli obligasi perusahaan di pasar sekunder melalui program Secondary Market Corporate Credit Facility (SMCCF).

Program tersebut sudah diumumkan pada 23 Maret lalu, dan merupakan salah satu dari beberapa fasilitas yang dikeluarkan The Fed guna meredam dampak pandemi penyakit virus corona (Covid-19) ke perekonomian.

Bursa saham AS (Wall Street) yang anjlok di awal perdagangan berbalik melesat naik setelah pengumuman tersebut. Hawa positif pun datang ke Asia pagi ini, dan rupiah menjadi perkasa.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.