Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Kata Psikolog Forensik soal Penusuk Syekh Ali Jaber Disebut Gangguan Jiwa

JAKARTA – Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menanggapi soal pelaku penusukan Syekh Ali Jaber mengalami gangguan jiwa. Reza mengungkapkan dugaan adanya pihak lain dibalik penusukan ini yang memanfaatkan gangguan jiwa pelaku.

Awalnya Reza mempertanyakan gangguan jiwa yang dialami pelaku dengan inisial AA (24) ini. Dia menyebut jika pelaku memiliki gangguan jiwa tentu dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku.

 

“Syekh Ali Jaber ditusuk. Si penusuk dikabarkan mengidap gangguan jiwa. Gangguan jiwa tipe apa? Apakah termasuk tipe yang mendapat pemaafan hukum?” katanya.

 

Reza mengatakan jika AA adalah dalam pengawasan rumah sakit, tentu ada pihak yang harus bertanggung jawab. Dia mengungkapkan kelalaian itu bisa dikenakan pidana.

 

“Pihak yang bertanggung jawab menjaga orang sakit jiwa, tapi lalai, sehingga orang sakit jiwa tersebut membahayakan orang lain, bisa dikenai pidana,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Reza mengatakan di persidangan, hakim bisa saja memerintahkan agar pelaku dirawat di rumah sakit jiwa. Dia berharap agar kasus ini tidak diselesaikan dengan tergesa-gesa.

 

“Hakim dapat memerintahkan agar pelaku semacam itu dirawat di RS jiwa. Tapi jika kasus buru-buru disetop di tingkat penyelidikan, bagaimana mungkin perintah hakim tersebut bisa ada?” tuturnya.

 

Berdasarkan penjelasan di atas, Reza menyebut bisa saja pelaku mengalami gangguan jiwa. Namun tak menutup kemungkinan pelaku telah dipengaruhi dan korban cuci otak.

 

“Bisa saja. Yang diprogram adalah sebatas perilakunya. Sehingga dia berperilaku seperti kehendak si programmer, sementara kewarasannya tetap terganggu,” katanya.

 

Sebelumnya, Syekh Ali Jaber ditusuk pria berinisial AA (24). Pelaku telah ditangkap polisi dan akan diperiksa kondisi kejiwaannya.

 

“Tim penyidik berkeinginan untuk meminta keterangan dari pada saksi ahli, dalam hal ini mungkin rumah sakit jiwa di Provinsi Lampung di daerah Pesawaran,” ujar Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arstad saat dihubungi, Minggu (13/9).

 

Pandra mengatakan hal ini karena pelaku memberikan keterangan yang berubah-ubah pada saat pemeriksaan. Jadi, menurutnya, diperlukan tahapan pemeriksaan lebih mendalam.

 

“Dalam pemeriksaan awal ini (pelaku) memberikan keterangan yang berubah-ubah,” kata Pandra.

 

“Yang bisa memberikan keterangan dia sakit jiwa atau tidak itu adalah ahli, harus ada tahapan pemeriksaan,” tuturnya.

 

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan pemerintah masih belum percaya penusuk Syekh Ali Jaber mengalami gangguan jiwa. Menurut Mahfud, kesimpulan ada-tidaknya gangguan jiwa pada pelaku harus ditelusuri terlebih dahulu.

 

“Spekulasi di luar ada dugaan berdasarkan pengakuan keluarganya si penusuk ini sakit jiwa. Tapi kita belum percaya sakit jiwa betul atau tidak. Kan pasti ada jejaknya rumah sakit Jiwa, jejaknya kayak apa, keluarganya melihat kayak apa, tetangganya melihat kayak apa, teman-temannya melihat kayak apa, baru kita bisa menyimpulkan dia sakit jiwa,” kata Mahfud melalui rekaman video yang diunggah di akun Instagram-nya seperti dilihat detikcom, Senin (14/9/2020).

Sumber

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.