Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Pelontar Revolusi Akhlak “Sibuk” Urusi Lonte

Oleh : Harjo Nanggu

Semenjak masih tinggal di Saudi menyelesaikan pemecahan rekor umroh terlama, Rizieq Shihab getol menggelorakan Revolusi Akhlak. Perpaduan 2 kata itu tidak perlu diuraikan karena sejatinya kita semua sepakat bahwa bukan hanya Indonesia, namun setiap manusia harus punya akhlak yang baik. Tentu kita sepakat, akhlak yang baik itu meliputi menjalankan kewajiban sebagai individu maupun warga Negara dan menghormati warga lain. Oleh karena itu, lontaran revolusi akhlak oleh Rizieq Shihab hampir tidak menimbulkan polemic atau bantahan. Berbeda dengan jargon sebelumnya, NKRI Bersyariah yang digaungkan jelang Pilkada DKI.

Namun ketika Rizieq kembali ke tanah air, malah tersandung ucapannya sendiri. Gara-garanya sewaktu mengisi tausiah di acara Maulid Nabi dan pernikahan anak keempatnya, yang banyak dilontarkan malah ucapan kotor yakni lonte. Rizieq menuduh seseorang berprofesi PSK (Lonte) tengah dilindungi polisi karena menghina ulama. Kata-kata “lonte” itu diulang-ulang hingga 9 kali.

Sungguh kontradiksi dengan jargon yang disampaikan sebelumnya yakni revolusi akhlak. Bagaimana bisa seorang Rizieq yang diklaim merupakan salah satu dzurriyah Rasul Muhammad, pimpinan ormas Islam, diikuti beberapa gerombolan yang suka sweeping minuman keras malah fasih mencaci maki seorang perempuan dan melontarkan kata “lonte” berulang kali di acara yang sangat suci dan dihormati oleh kaum muslimin seluruh dunia. Padahal dalam kaidah-kaidah Islam, menuduh, memfitnah, mencaci maki bahkan suudzon saja jelas-jelas dilarang.

Entah apa yang tengah dipikirkannya dan apa yang merasuki pria yang juga masih punya banyak kasus di kepolisian itu dengan santai berkata kotor. Pun para pendukungnya malah tertawa dan bergembira mendengar kata kotor itu. Entah apa yang ada dibenak menantu, anak perempuan maupun rombongan keluarga besan mendengarkan Rizieq berkata “lonte” berkali-kali.

Di sosmed, video pendek itu menyebar kemana-mana. Banyak pihak mengatakan tidak habis pikir dengan tindakan Rizieq. Bagaimana bisa maqam seorang dzurriyah, memiliki pengetahuan syariat Islam, lulusan S2, tinggal 2,5 tahun di Saudi, pemimpin ormas Islam tanpa merasa risih dan jengah dengan kata kotor itu. Tidak sedikit yang kemudian menghubungkan bila seorang pemimpin saja enteng berkata kotor, bagaimana dengan para pengikutnya? Tak salah jika perkataan kotor itu dikaitkan dengan track record FPI di berbagai penjuru Indonesia yang suka berbuat keonaran dan selalu merasa paling benar.

Disisi yang lain, aparat keamanan, pejabat yang berwenang bahkan MUI harus berani ambil tindakan. Mereka tidak boleh diam melihat seseorang berkata atau mengungkapkan hal-hal yang negative. Apapun alasannya entah becanda atau berseloroh tindakan tersebut jelas-jelas salah dan membuat nama Islam makin rendah dihadapan masyarakat non muslim. Tidak sedikit tokoh-tokoh Islam yang menjaga lisan, tindakan maupun hubungan baik dengan non muslim untuk menjelaskan bahwa Islam di Indonesia sangat mencintai kedamaian serta menjauhi permusuhan. Tetapi dengan perilaku Rizieq yang semaunya sendiri, sedikit banyak akan membuat orang jadi berpikir ulang tentang bagaimana Islam di Indonesia.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.