Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Pembodohan Publik! Istilah Mudik dan Pulang Kampung Kok Dianggap Sama?

JAKARTA- Dalam program Mata Najwa yang ditayangkan pada 22 April 2020 menampilkan wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Joko Widodo. Topik acara tersebut seputar kebijakan pemerintah dalam menangani pandemik virus corona.

Najwa Shihab memang dikenal sebagai presenter yang memiliki sejuta pertanyaan tajam. Narasumbernya sering kali mati gaya dibuatnya.

Ada satu pertanyaan yang kini menjadi perdebatan di masyarakat. Presiden Jokowi membedakan istilah mudik dengan pulang kampung lantaran sang punggawa acara mempertanyakan sikap pemerintah yang baru melarang mudik sekarang. Padahal katanya sudah banyak masyarakat yang pulang ke daerahnya masing-masing.

Presiden Jokowi pun dengan tegas menjawab, mudik dan pulang kampung berbeda. Mudik adalah tradisi yang dilakukan untuk merayakan Idul Fitri.

“Kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta, tetapi anak-istrinya ada di kampung,” tegas Jokowi dalam acara Mata Najwa, 22 April 2020.

Memang tak bisa disamakan, orang yang merantau bekerja di Jakarta dan memiliki rumah di kampung dengan orang yang sudah menetap di kota kemudian merayakan lebaran di tempat orang tua di kampung halaman.

Sekilas memang kedua istilah tersebut sama, bahkan KBBI pun mencatat demikian. Mudik diartikan sebagai pulang ke kampung halaman. Namun perlu kita lihat terminologi penggunaan kata tersebut dalam sebuah konteks yang lebih spesifik.

Mudik meski dimaknai pulang ke kampung halaman tapi tidak sama dengan pulang kampung. Mudik identik dengan budaya atau tradisi tahunan yang dilakukan menjelang Idul Fitri. Sementara pulang kampung memiliki terminologi yang lebih umum.

Dalam ilmu bahasa, hal ini dapat diungkap melalui cabang ilmu Semantik yang mempelajari sebuah makna dari bahasa, kode, maupun tanda. Pun dalam menentukan makna, tak bisa dilakukan hanya secara harfiah. Pemberian makna perlu mempertimbangkan konteks bahasa, hingga asal-usul lahirnya bahasa itu sendiri.

Misal saja kata “salah” dan “keliru”. Jika Anda mencari makna di dalam KBBI, maka kedua kata tersebut diartikan sama dan Anda hanya akan mendapatkan makna secara harfiah. Namun ketika Anda memasukkan kata tersebut dalam sebuah konteks maka akan melahirkan makna yang berbeda.

Kata ‘salah’ memiliki terminologi yang lebih umum. Semua yang dianggap tidak benar bisa dikatakan salah. Namun tidak dengan ‘keliru’, kata ‘keliru’ tepat digunakan dalam konteks anggapan atau persepsi.

Dalam menentukan kebijakan, pemerintah perlu membedakan kedua istilah ini. Alasannya, karena kedua kegiatan tersebut memiliki dampak sosial yang berbeda.

Coba Anda bayangkan, orang mudik memiliki tempat tinggal di Jabodetabek bersama keluarganya. Untuk apa pulang kampung? Pekerjaan dan tempat tinggal mereka pun ada di lingkungan yang sama.

Sementara orang yang pulang kampung lebih memilih kembali berkumpul dengan anak istrinya di kampung. Untuk apa tinggal di ibu kota tanpa penghasilan? Selain itu harus hidup desak-desakan dengan yang lain. Maka Presiden Jokowi memberikan kelonggaran bagi mereka untuk pulang kampung dan meminta Pemerintah Daerah untuk mengikuti protokol kesehatan agar ketika mereka pulang kampung sudah tersedia lokasi untuk karantina. Paham ya?

Hal itu menjadi sah-sah saja, memaknai bahasa dari konteks sosialnya. Bahkan akan menghasilkan sebuah arti yang lebih spesifik sehingga kebijakan yang diambil pemerintah tepat sasaran.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.