Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Pengamat Politik Pandang Loyalis Orde Baru Manfaatkan Pandemi untuk Mainkan Isu PKI

JAKARTA – Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati memandang, diembuskannya isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belakangan ini ramai di media sosial, sengaja disulut oleh para loyalis Orde Baru, salah satunya oleh anak penguasa Orba, yaitu Tommy Soeharto.

Hal tersebut dikonstruksi sedemikian rupa agar masyarakat dibuat percaya dengan adanya peringatan ulang tahun ke-100 PKI secara senyap di tengah situasi pandemi Covid-19, di mana banyak masyarakat yang mengisolasi diri dan kolektif. Menurut Wasis, motivasi dari loyalis Orde Baru tak lain ialah untuk mengingatkan kembali akan bahaya laten komunis.

“Narasinya itu kemudian mengarah seolah-olah kalau mereka-mereka yang berdiam diri dalam rumah itu sedang mempersiapkan HUT PKI, karena operasi PKI kan dulunya juga sembunyi dalam senyap. Jadi di sini ada semacam pemikiran konspiratif itu,” kata Wasis dikutip dari Tagar.id, Rabu, 27 Mei 2020.

Saat ditanyakan terdapat pihak-pihak yang dengan sengaja ingin menduplikasi situasi G 30 S PKI, Wasis tidak bisa memungkiri hal tersebut. Terlebih momen HUT ke-100 partai terlarang ini dia tegaskan sengaja dipolitisasi untuk mempertebal teori konspirasi mengenai kebangkitan PKI di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini.

“Pihak-pihak itu beragam. Namun, intinya adalah mereka yang selama ini teriak anti-PKI ketika demo. Makanya, dicarilah cara untuk supaya situasi makin tambah parah dengan konspirasi. Intinya, mereka stres karena terkurung, maka dicarilah cara supaya bisa masyarakat percaya dengan memainkan narasi PKI,” ucapnya.

Dalam postingannya di Twitter, Tommy Soeharto sempat mengingatkan ihwal bahaya laten PKI. Dalam postingannya dia turut membahas era swasembada pangan, yang sepintas mengajak warganet bernostalgia dengan era Orba.

Dua isu di atas tergolong seksi digulirkan, di mana saat ini masyarakat sedang kebingungan dengan kondisi ekonomi yang morat-marit, lantaran diterpa pagebluk berkepanjangan. Wasis memandang, apabila hal itu dilakukan berulang-ulang, bisa berpotensi mengangkat nama Tommy Soeharto, dan di sisi lain dapat mendelegitimasi Pemerintahan Joko Widodo.

“Saya pikir isu PKI ini terkait tadi soal ‘rapat operasi dalam senyap’ sedangkan swasembada pangan ini hubungannya dengan ‘ketidaksiapan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan warganya saat bencana Covid-19.’ Dua isu itu kan sebenarnya senjata politik untuk mendelegitimasi Pemerintahan Jokowi,” ujarnya.

Kendati demikian, pria kelahiran Yogyakarta itu belum melihat adanya pola propaganda yang dilancarkan Ketua Umum Partai Beringin tersebut. Dia menilai sejauh ini Tommy Soeharto masih sebatas mengkomparasikan dua rezim yang berbeda.

“Saya pikir ini masih sifatnya persuasif karena baru sebatas ‘sekadar mengingatkan’ soal kapabilitas rezim sebelumnya dibanding sekarang, dan bagaimana pemerintahan bisa digoyang kalau semua pada berdiam diri dalam rumah,” katanya.

“Tahapan sekarang itu lebih pada upaya memecah konsentrasi publik agar jangan berdiam diri. Karena mungkin saja ujungnya adalah mereka yang terus-terusan dalam rumah akan disangka komunis. Itu lebih pada labelisasi mereka yang diam-diam bergerak dalam senyap. Karena pada dasarnya, rapat-rapat kader PKI kan selalu tertutup,” lanjut Wasis.

Sementara, Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta memandang para loyalis Orde Baru yang memainkan isu PKI di media sosial, hanya ingin mengingatkan kepada masyarakat mengenai bahaya laten kebangkitan partai komunis di Tanah Air.

“Dalam perspektif positif mereka ingin mengingatkan masyarakat atas bahaya PKI, tapi dugaan bahwa tokoh-tokoh Orba ingin membangun eksistensi dan menarik perhatian rakyat, itu dimungkinkan terjadi,” kata Stanislaus dikutip dari Tagar.id, Rabu, 27 Mei 2020.

Lantas, dia menyarankan jangan sampai pemerintah RI kalah narasi terkait PKI. “Harus lebih kuat dari narasi yang dibangun oleh non state actor. Tindakan tegas pemerintah terhadap kelompok yang masih berideologi komunis juga nyata. Jika tidak maka ruang ini akan diisi oleh pihak lain yang justru bisa menjadi bumerang bagi pemerintah,” kata Stanislaus.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.