Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Positivity Rate Tinggi, Epidemolog: Seharusnya DKI PSBB Saja

JAKARTA – Kepala Departemen Epidemiologi FKM UI, Tri Yunis Miko Wahyono mengkritik langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang sudah tiga kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase I di Ibu Kota.

Padahal, angka positivity rate atau jumlah kasus Covid-19 dari total pemeriksaan mencapai 6,5 persen di bawah standar organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menetapkan positivity rate sebesar 5 persen.

“DKI seharusnya PSBB saja, transisi mau transisi kemana sih kalau ke new normal kan kalau (zona) merah kan tidak boleh. Dan kalau belum hijau seharusnya tidak dianjurkan,” kata Miko saat dikutip dari Okezone, Minggu (2/8/2020).

Miko menjelaskan, kebijakan DKI kembali menerapkan PSBB transisi fase I saat angka positivity rate tinggi tidak tepat. Menurut dia, keputusan Anies tersebut lantaran faktor ekonomi karena Ibu Kota merupakan pusat bisnis dan ekonomi di Indonesia.

DKI Jakarta, lanjut Miko, seharusnya mengevaluasi kebijakan PSBB transisi fase I dengan konsisten menutup semua lokasi zona merah di Ibu Kota.

“Nah harusnya menenurut saya Jakarta daerah merah harus konsisten tidak boleh dibuka. Jadi zona merah mau pakai kelurahan, dia mau pakai kecamatan, dia mau pakai merahnya RW. Tapi clear itu daerah merah tidak boleh dibuka,” terangnya.

Miko berharap, DKI Jakarta bisa menghidupkan jaringan ekonominya jika kembali menerapkan PSBB. Sehingga, daerah yang dekat dengan zona merah bisa memperketat protokol kesehatan guna mencegah penularan corona.

“Misal kalau dia mau masuk, protokolnya harus lebih berat dari yang ada, kalau ada zona merah. Protokolnya harus lebih berat dari zona merah. Usahakan upayakan dia lebih ketat, pakai masker, dan sebagainya sampai pakai face shild,” tutur Miko.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.