Haluan Berita

Hanya Sesuai Fakta
Rizieq Shihab, Antara Revolusi Akhlak dan Isu Omnibus Law

JAKARTA – Kepulangan Pemimin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dari Arab Saudi diprediksi akan membuat ramai dinamika politik tanah air. Rizieq diduga kuat bakal menjadi tokoh yang memainkan peran kritis terhadap pemerintah.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Ujang Komarudin mengatakan bahwa Rizieq saat ini sudah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim.

Dia menilai Rizieq bisa menjadi tokoh oposisi nonparlemen yang punya pengaruh besar. Asumsi itu tak lepas dari pengikut Rizieq yang sangat banyak di berbagai daerah.

“Tokoh oposisi di luar parlemen, salah satunya HRS, kalau bisa mempersatukan tokoh Islam itu bisa kekuatan yang baik,” kata Ujang dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

Kepulangan Rizieq bertepatan dengan isu penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja menguat. Elemen buruh dan mahasiswa di berbagai daerah berulang kali menolak UU tersebut.

Rizieq juga berencana menerapkan revolusi akhlak di Indonesia.

Menurut Ujang, tak menutup kemungkinan Rizieq akan ikut serta menyuarakan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja. Dengan begitu, arus penolakan menjadi lebih besar.

Akan tetapi, ada pula kemungkinan Rizieq meredam isu penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja dengan agendanya sendiri, yakni revolusi akhlak.

“Bisa menyejukkan dengan resolusi akhlak, tapi bisa juga memperluas skala demonstrasi ke depan, karena kekecewaan publik terhadap Covid, Public Health dan mungkin dengan Omnibus Law,” ucap Ujang.

Pengamat Politik Wasisto Jati menyampaikan pendapat berbeda. Menurutnya, Rizieq lebih berpotensi memainkan kembali isu politik identitas seperti saat Pilkada DKI Jakarta 2018 lalu.

Dia ragu Rizieq turut serta dalam arus penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja. Wasisto juga yakin kepulangan Rizieq ke Indonesia tak berkaitan dengan Omnibus law UU Cipta Kerja yang dianggap bermasalah bagi banyak pihak.

“Saya pikir tujuan HRS dengan isu yang mengemuka itu omnibus law itu dua isu yang berbeda,” kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

“Karena saya lihat kalau mau terjun ke publik, Rizieq akan lebih banyak main ke isu identitas,” tambahnya.

Selain itu, Wasisto memprediksi Rizieq tidak akan selantang dahulu. Dia berasumsi demikian karena Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah melakukan rekonsiliasi usai bertarung sengit di Pilpres 2019 lalu.

Rizieq diketahui mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 yang akhirnya kalah oleh paslon Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Mungkin HRS tidak sevokal dulu lagi karena sudah rekonsiliasi dan yang kedua karena kasus hukumnya belum selesai,” jelas dia.

Wasisto pun ragu Rizieq bakal langsung menggelar demonstrasi besar-besaran. Wasisto mengatakan kondisi saat ini sudah berbeda dengan 2017-2018 lalu ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dianggap melakukan penodaan agama, sehingga bisa dijadikan isu untuk menggelar demonstrasi.

“Saya pikir karena teman beliau banyak dirangkul ke pemerintah. Apalagi sekarang tidak ada simbol seperti dulu seperti Ahok misalnya yang bisa dijadikan demo,” tutup dia.

Rizieq sudah tiba di Indonesia usai sekian tahun tinggal di Mekkah, Arab Saudi. Kepulangannya disambut ribuan orang yang langsung datang ke Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/11). Akses menuju bandara pun lumpuh total.

Tak hanya itu, massa lalu mendampingi Rizieq dari Bandara Soetta ke kediamannya di kawasan Petamburan, Jakarta. Salawat, takbir hingga lagu Indonesia Raya dilantunkan Rizieq dan massa yang mendampinginya sepanjang perjalanan menuju Petamburan.

Setibanya di Petamburan, orasi yang pertama disampaikan Rizieq tak lain seruan revolusi akhlak.

“Kepulangan kali ini saudara, tidak lain, tidak bukan, saya menyerukan dan mengajak kepada semua umat Islam Indonesia, ayo sama-sama revolusi akhlak. Setuju?” kata Rizieq yang disambut pernyataan setuju oleh massa yang hadir di Petamburan, kemarin.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.